Pembinaan Hakim Oleh Ketua Pengadilan Negeri Cilacap Kelas I A

21 Jan

37
Written by Super User
Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

CILACAP – Senin, 21 Januari 2019 bertempat di ruang rapat dilaksanakan Pembinaan oleh Ketua Pengadilan Negeri Cilacap Kelas I A Bapak Jon Effreddi, S.H., M.H. kepada seluruh Hakim Pengadilan Negeri Cilacap Kelas I A. Ketua Pengadilan Negeri Cilacap Kelas I A menyampaikan Hakim harus menjaga integritas, menjauhkan hakim dari intervensi dalam menjalankan tugas, baik dari eksekutif, legislatif maupun pihak pencari keadilan. Hakim Pengadilan Negeri Cilacap Kelas I A harus menjauhi tindakan yang melukai Peradilan serta Hakim harus meningkatkan kinerja penanganan perkara, mengisi SIPP tepat waktu. (RNP)

   pembinaan hakim januari 2019  

Pengajian Rutin Pada Pengadilan Negeri Cilacap Kelas I A “Mengingat Kematian”

17 Jan

46
Written by Super User
Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

CILACAP – Kamis, 17 Januari 2019 bertempat di Ruang Sidang Wijayakusuma dilaksanakan Pengajian yang rutin diselenggarakan oleh Keluarga Besar Pengadilan Negeri Cilacap Khususnya yang beragama Islam. Pengajian yang dimulai pada pukul 08.15 WIB diikuti oleh seluruh Hakim, Calon Hakim dan ASN serta siswa PPL dan PKL yang beragama Islam. Tausiyah disampaikan oleh Ustadz Midhan Anis, S.Sy dari Cilacap. Ketua Pengadilan Negeri Cilacap, Bapak Jon Effreddi, S.H., M.H. dalam sambutannya menyampaikan dalam memahami Al-Qur’an seseorang harus mengetahui asbabun nuzul (konteks turunnya ayat). “Seorang tidak akan mengetahui tafsir (maksud) dari suatu ayat tanpa berpegang pada peristiwa dan konteks turunnya ayat. (Jalalud Din as-Syuyuti, Lubâb an-Nuqûl fî Asbâbin Nuzûl, Beirut: Darl al-Kutub al Ilmiah, 1971, hal. 3). Asbabun nuzul yang melatarbelakangi turunnya ayat adalah salah satu komponen penting yang harus diperhatikan bagi orang yang ingin memahami maksud Al-Qur’an. Selain itu juga menyampaikan utamakan sholat dan pelayanan dalam bekerja.
Ustadz Midhan Anis, S.Sy dalam tausiyahnya menyampaikan bahwa orang yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat mati. Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Yang paling baik akhlaqnya’. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah 2/419 berkata : hadits hasan)[2]

 IMG 3069   IMG 3071

Jika sudah waktunya kematian itu akan menjemput siapa pun, tanpa ada yang mampu memundurkan atau mempercepatnya. “Katakanlah (wahai Muhammad), kematian yang kalian takuti itu pasti akan datang menemui kalian. Kemudian kalian akan dikembalikan kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui hal-hal gaib dan nyata. Lalu, Dia akan memberitahukan segala apa yang telah kalian lakukan di dunia.” (QS al-Jumu’ah [62]: 8).
Perbedaan terbesar orang yang mengingat kematian dengan tidak ialah terletak pada kehati-hatian bersikap, kerendahan hati, keikhlasan, amal kebaikan, dan kezuhudannya. Orang yang mengingat mati sejatinya sadar bahwa apa pun tidak ada artinya jika tidak digunakan untuk hal-hal positif yang menjadi bekalnya kelak.Mengingat mati juga membuat seseorang hidup qanaah (merasa cukup dengan pemberian Allah). Ia akan memandang merasa ringan, meskipun hidupnya susah. Karena ia tahu bahwa kesusahan di dunia tidaklah lebih hebat dari kematian.
Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu berkata, “Ad-Daqqaq berkata, ‘Siapa yang banyak mengingat mati, ia akan dimuliakan dengan tiga perkara: bersegera untuk bertaubat, hati merasa cukup, dan giat/semangat dalam beribadah. Sebaliknya, siapa yang melupakan mati ia akan dihukum dengan tiga perkara: menunda taubat, tidak ridha dengan perasaan cukup dan malas dalam beribadah. Maka berpikirlah, wahai orang yang tertipu, yang merasa tidak akan dijemput kematian, tidak akan merasa sekaratnya, kepayahan, dan kepahitannya. Cukuplah kematian sebagai pengetuk hati, membuat mata menangis, memupus kelezatan dan menuntaskan angan-angan. Apakah engkau, wahai anak Adam, mau memikirkan dan membayangkan datangnya hari kematianmu dan perpindahanmu dari tempat hidupmu yang sekarang?” (At-Tadzkirah, hal. 9)
Manfaat mengingat kematian.
1. Menghilangkan sebab yang membuat lalai
2. Mengingat kematian membuat kita tidak berlaku dholim
3. Mengingat kematian menjadikan seseorang semakin mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Allah. Karena barang siapa mengetahui bahwa ia akan menjadi mayat kelak, ia pasti akan berjumpa dengan Allah. Jika tahu bahwa ia akan berjumpa Allah kelak padahal ia akan ditanya tentang amalnya didunia, maka ia pasti akan mempersiapkan jawaban. (RNP)

IMG 3052   IMG 3055