Upacara Memperingati HUT ke-74 Kemerdekaan RI di Pengadilan Negeri Cilacap Kelas I A

16 Oct

CILACAP- Sabtu, 17 Agustus 2019 bertempat di halaman gedung Pengadilan Negeri Cilacap Kelas I A diselenggarakan Upacara dalam rangka memperingati HUT ke-74 Kemerdekaan RI. Upacara diikuti oleh seluruh Hakim dan ASN serta tenaga honorer. Bertindak sebagai pembina upacara Bapak Jon Effreddi, S.H., M.H. Ketua Pengadilan Negeri Cilacap Kelas I A. Upacara yang dimulai pukul 07.00 WIB berlangsung khidmat. Bapak Jon Effreddi, S.H., M.H. Ketua Pengadilan Negeri Cilacap Kelas I A dalam amanatnya membacakan sambutan Gubernur Jawa Tengah.

1   2

Pancasila sebagai dasar Republik adalah harga mati. Tidak bisa ditawar dan harus kita tanam sedalam-dalamnya di Bumi Pertiwi. Pancasila inilah sebagai induk semangnya negara ini, yang di dalamnya bersemayam ajaran-ajaran agama: Hindu, Budha, Islam, Katolik, Kong Hu Chu dan Kristen. Yang di dalamnya bersemayam spirit-spirit berasaskan kebudayaan Nusantara. Kalaulah sistem pemerintahannya pernah berubah, toh akhirnya jiwa-jiwa yang telah menyatu dari Sabang sampai Merauke dari Miangas hingga Rote tidak bisa dipisahkan. Sejarah mencatat, setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 sistem pemerintahan sempat berganti menjadi Republik Indonesia Serikat pada 27 Desember 1949. Namun akhirnya sejak 17 Agustus 1950 Tanah Air ini kembali tegak berdiri sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sampai kapan? Seperti ungkapan Bung Karno, "Di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia yang kekal dan abadi." Bung Karno mengatakan, “Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan G O T O N G – R O Y O N G. Gotong-royong adalah pembantingan - tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjuangan bantubinantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama!”

5   8

Tekad kebersamaan, senasib sepenanggungan inilah yang terus kita emban untuk menghadapi zaman. Sejak dilahirkan Indonesia mendapat berbagai tantangan dan persoalan berat, mulai dari seringnya bencana alam, korupsi, konflik sosial, gerakan separatisme dan radikalisme. Belum lagi tantangan modernisasi yang bergerak seiring dentang jam. Jangan lagi ada niatan mengganti ideologi bangsa, jangan lagi ada ungkapan, “Ah kamu Batak, ah kamu Irian, ah kamu Bugis, ah kamu Sunda, ah kamu Madura, ah kamu Jawa.” Jangan lagi ada. Perbincangan kita harus melompat jauh ke depan. Dalam Upacara juga diberikan piagam penghargaan dan penyematan tanda kehormatan SatyaLancana Karya Satya yang diberikan oleh negara kepada pegawai negeri sipil yang telah berbakti selama 10 atau 20 atau 30 tahun lebih secara terus menerus dengan menunjukkan kecakapan, kedisiplinan, kesetian dan pengabdian sehingga dapat dijadikan teladan bagi setiap pegawai lainnya. Sebanyak 40 (empat puluh) hakim dan ASN Pengadilan Negeri Cilacap mendapat penghargaan tersebut. Acara diakhiri dengan tasyakuran, potong tumpeng dilakukan oleh Pimpinan Pengadilan Negeri Cilacap Kelas I A. (RNP)

3   4

6   7